NGANJUK – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi di kawasan Petak 67B RPH Bajulan BKPH Pace, yang masuk wilayah administrasi Desa Klodan, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Selasa (1/9/2026). Kebakaran terjadi di kawasan hutan dengan kondisi medan yang cukup berat karena berada di lereng Gunung Wilis, dengan lokasi titik api berada di atas bukit yang curam dan sulit dijangkau.
Peristiwa kebakaran tersebut diketahui sekitar pukul 13.30 WIB oleh petugas yang melaksanakan patroli rutin di kawasan hutan. Berdasarkan informasi awal di lapangan, api yang membakar kawasan Petak 67B diduga merupakan rembetan dari kebakaran di Petak 55 RPH Salam Judeg.
Kobaran api kemudian terlihat membakar material mudah terbakar yang berada di permukaan hutan, berupa serasah, ranting, dedaunan kering, rumput ilalang serta tanaman RBC. Hingga laporan disampaikan, luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 3 hektare.
Kawasan yang terbakar merupakan bagian dari Petak 67B RPH Bajulan BKPH Pace, dengan luas baku kawasan mencapai 707 hektare. Jenis tanaman yang berada di lokasi merupakan RBC, sedangkan kelas hutannya adalah Hutan Lindung (HL).
TITIK API BERADA DI MEDAN CURAM
Petugas di lapangan menghadapi tantangan cukup berat dalam melakukan penanganan kebakaran. Posisi titik api berada di kawasan lereng Gunung Wilis dengan kontur tanah yang curam, berbukit dan sulit dijangkau secara langsung.
Selain medan yang ekstrem, kondisi angin yang masih cukup kencang turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi arah penyebaran api. Kondisi tersebut membuat petugas harus mengedepankan keselamatan personel sekaligus melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan titik api.
Informasi mengenai kebakaran pertama kali diperoleh dari petugas patroli rutin yang melihat adanya titik api di kawasan tanaman hutan lindung indikatif KHDPK. Setelah menerima informasi tersebut, dilakukan pengecekan serta koordinasi bersama unsur terkait untuk mengetahui kondisi terkini di lokasi.
Babinsa Desa Klodan turut terlibat dalam kegiatan pemantauan dan koordinasi bersama petugas kehutanan, pemerintah desa, instansi terkait serta masyarakat sekitar.
SINERGI TNI, PETUGAS KEHUTANAN DAN MASYARAKAT
Dalam upaya mengantisipasi meluasnya kebakaran, sejumlah unsur terkait telah melakukan koordinasi dan pemantauan terhadap lokasi. Kegiatan tersebut melibatkan Waka KPH Kediri, KRPH beserta jajaran, CDK Wilayah Nganjuk, BPBD Wilayah Nganjuk, Babinsa Desa Klodan, KRPH Bajulan, LMDH Bajulan serta masyarakat.
Kehadiran Babinsa di lokasi merupakan bagian dari upaya membantu melakukan pemantauan wilayah, berkoordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat serta menyampaikan perkembangan situasi kepada komando atas.
Petugas juga terus mengingatkan masyarakat yang berada di sekitar wilayah kerja agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika melakukan aktivitas di kawasan hutan. Kondisi angin yang masih kencang menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat mempercepat penyebaran api dan membuat arah kobaran berubah sewaktu-waktu.
Mengingat lokasi kebakaran berada cukup jauh dari wilayah kerja serta memiliki medan yang sangat curam, penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan keselamatan personel. Untuk sementara, petugas terus melaksanakan pemantauan terhadap perkembangan api dan kemungkinan perluasan titik kebakaran.
KESELAMATAN PERSONEL MENJADI PRIORITAS
Sampai dengan laporan terakhir, situasi secara umum masih dalam keadaan aman dan terkendali, meskipun api di lokasi kebakaran dilaporkan belum sepenuhnya padam.
Dalam kejadian tersebut, tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka dari personel yang terlibat. Data sementara mencatat kerugian personel nihil dan kerugian materiil nihil.
Langkah-langkah yang telah dilakukan meliputi pengecekan lokasi kejadian, koordinasi dengan perangkat desa dan instansi terkait, koordinasi bersama masyarakat setempat, pemantauan perkembangan kebakaran, penyampaian imbauan kewaspadaan kepada masyarakat serta pelaporan situasi kepada komando atas.
Petugas juga terus memonitor arah pergerakan api guna mengantisipasi apabila terjadi perluasan kebakaran menuju kawasan lain. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan faktor cuaca, kecepatan angin, kondisi vegetasi dan karakteristik medan di lokasi.
DANDIM 0810/NGANJUK: UTAMAKAN KESELAMATAN DAN PERKUAT KOORDINASI
Dandim 0810/Nganjuk Letkol Arh M. Taufan Yudha Bhakti, S.I.P., S.T., menyampaikan bahwa kebakaran hutan harus mendapatkan perhatian serius karena kawasan hutan memiliki kondisi vegetasi yang mudah terbakar, terlebih ketika memasuki kondisi kering dan disertai angin yang cukup kencang.
Menurutnya, penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan sinergi seluruh unsur, mulai dari petugas kehutanan, TNI, pemerintah daerah, BPBD, pemerintah desa hingga masyarakat.
“Kami mengutamakan keselamatan personel dalam setiap upaya penanganan di lapangan. Dengan kondisi medan yang curam dan titik api berada di lereng Gunung Wilis, setiap langkah harus dilakukan secara terukur serta melalui koordinasi yang baik dengan seluruh unsur terkait,” ujar Dandim.
Dandim menegaskan bahwa jajaran kewilayahan, khususnya Babinsa, akan terus membantu melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait guna mengetahui perkembangan situasi di lapangan.
“Babinsa agar terus berkoordinasi dengan perangkat desa, petugas kehutanan, BPBD dan masyarakat. Apabila terdapat perkembangan situasi maupun potensi meluasnya api, segera dilaporkan sehingga dapat dilakukan langkah antisipasi sedini mungkin,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dandim mengimbau masyarakat agar meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, terutama di kawasan hutan dan lahan yang mudah terbakar. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api, serta segera melaporkan apabila melihat adanya kepulan asap atau titik api.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan. Jangan melakukan pembakaran sembarangan dan jangan meninggalkan sumber api di kawasan hutan. Jika melihat titik api, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani secepat mungkin,” pungkasnya.
PEMANTAUAN TERUS DILAKUKAN
Hingga saat ini, perkembangan kebakaran di Petak 67B RPH Bajulan masih dalam pemantauan petugas. Kondisi lokasi yang berada di lereng dengan medan curam dan jauh menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan.
Koordinasi lintas sektor terus dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan meluasnya kebakaran. Seluruh unsur di lapangan diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap perubahan arah angin yang dapat memengaruhi pergerakan api.
TNI melalui jajaran kewilayahan akan terus mendukung upaya pemerintah dan instansi terkait dalam penanganan Karhutla, sekaligus membantu menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
Dengan sinergi seluruh unsur dan dukungan masyarakat, diharapkan kebakaran dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke kawasan hutan maupun permukiman warga.
Pendim 0810/Nganjuk












