Berita  

PEDULI AKSES WARGA, KODIM 0810/NGANJUK DORONG PEMBANGUNAN JEMBATAN PENGHUBUNG DUA DUSUN DI LOCERET

NGANJUK – Upaya meningkatkan akses dan memperlancar mobilitas masyarakat terus menjadi perhatian Kodim 0810/Nganjuk dalam mendukung pembangunan di wilayah. Salah satu kebutuhan infrastruktur yang menjadi perhatian adalah pembangunan jembatan beton yang menghubungkan Dukuh Banaran, Desa Macanan, dengan Dusun Sonanggan, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.

Jembatan tersebut berada di atas aliran pecahan Sungai Tunggak yang sekaligus menjadi saluran irigasi bagi lahan pertanian masyarakat. Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, lokasi jembatan berada di wilayah Dukuh Banaran RT 07/RW 05, Desa Macanan, Kecamatan Loceret, dengan titik koordinat sekitar -7.718998 S, 111.866963 E.

Adapun jembatan yang dibutuhkan memiliki ukuran kurang lebih lebar 3 meter dengan panjang 9 meter, dengan konstruksi yang diharapkan berupa beton. Keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat penting karena menjadi salah satu akses penghubung yang digunakan masyarakat dari dua wilayah desa.

Selain sebagai akses penghubung antardusun, jalur tersebut juga berfungsi sebagai jalan tani yang digunakan masyarakat untuk menuju lahan pertanian, mengangkut sarana produksi pertanian, serta membawa hasil panen.

Dari wilayah Dukuh Banaran, Desa Macanan, pembangunan jembatan tersebut diperkirakan memberikan manfaat kepada sekitar 600 jiwa atau kurang lebih 250 KK. Sementara dari wilayah Dusun Sonanggan, Desa Ngepeh, penerima manfaat diperkirakan mencapai sekitar 354 jiwa atau 118 KK.

Dengan jumlah penerima manfaat yang cukup besar, keberadaan jembatan tersebut mempunyai peran strategis dalam mendukung aktivitas masyarakat sekaligus menunjang roda perekonomian, khususnya sektor pertanian.

JEMBATAN BUKAN SEKADAR AKSES, TETAPI PENGHUBUNG KEHIDUPAN MASYARAKAT

Bagi masyarakat setempat, keberadaan jembatan memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari. Akses tersebut menjadi jalur yang menghubungkan warga dari dua wilayah sekaligus membuka kemudahan dalam menjalankan berbagai aktivitas.

Sebagai jalan tani, jembatan juga memiliki fungsi vital bagi para petani. Akses yang baik akan memudahkan mobilitas menuju persawahan, pengangkutan pupuk dan kebutuhan pertanian, hingga membawa hasil panen menuju tempat penyimpanan maupun pemasaran.

Karena berada di atas aliran sungai dan saluran irigasi, pembangunan jembatan diharapkan menggunakan konstruksi yang kuat dan memperhatikan kondisi lingkungan serta kelancaran aliran air. Dengan konstruksi beton, jembatan diharapkan mampu digunakan masyarakat secara aman dan dalam jangka waktu panjang.

DANDIM: INFRASTRUKTUR HARUS MEMBERIKAN MANFAAT NYATA

Dandim 0810/Nganjuk Letkol Arh M. Taufan Yudha Bhakti, S.I.P., S.T., menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah harus diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, jembatan penghubung antara Dukuh Banaran dan Dusun Sonanggan memiliki nilai strategis karena tidak hanya menjadi akses masyarakat, tetapi juga mendukung kegiatan pertanian dan perekonomian warga.

“Kita ingin setiap pembangunan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Jembatan ini bukan hanya menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menghubungkan aktivitas warga, mendukung para petani, serta membuka akses ekonomi masyarakat,” ujar Dandim.

Lebih lanjut, Dandim menyampaikan bahwa sinergi antara TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa dan masyarakat menjadi hal penting dalam mewujudkan pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.

“Semangat gotong royong harus terus kita jaga. Ketika pemerintah, TNI dan masyarakat dapat bersinergi, berbagai persoalan di wilayah akan lebih mudah dicarikan solusinya. Prinsipnya, kita hadir untuk membantu masyarakat dan mendorong agar kebutuhan dasar mereka mendapatkan perhatian,” tambahnya.

DUKUNG KETAHANAN EKONOMI DAN PERTANIAN WARGA

Pembangunan jembatan tersebut juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap aktivitas pertanian masyarakat. Akses jalan tani yang lebih baik akan mempermudah petani dalam melakukan kegiatan mulai dari pengolahan lahan hingga distribusi hasil pertanian.

Dengan tersedianya jembatan yang kokoh, masyarakat diharapkan tidak lagi mengalami kendala dalam mengakses wilayah pertanian, khususnya ketika membawa kendaraan maupun mengangkut hasil panen.

Kodim 0810/Nganjuk melalui jajaran kewilayahan akan terus mendorong terjalinnya komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta masyarakat dalam mengidentifikasi berbagai kebutuhan infrastruktur yang memiliki manfaat langsung bagi warga.

Keberadaan jembatan dengan ukuran 3 meter x 9 meter tersebut diharapkan nantinya mampu menjadi sarana penghubung yang aman, kuat dan dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, pembangunan jembatan bukan hanya berbicara mengenai pembangunan sebuah konstruksi fisik. Lebih dari itu, jembatan menjadi simbol gotong royong dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat, sekaligus menjadi penghubung antara akses, aktivitas pertanian, perekonomian dan kehidupan sosial warga.

Dari Banaran menuju Sonanggan, sebuah jembatan diharapkan menjadi penghubung yang membawa kemudahan, membuka akses, dan memberikan manfaat bagi ratusan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *