Berita  

MALAM PANJANG DI LERENG GUNUNG WILIS, TNI DAN WARGA BERJIBAKU JINAKKAN API KARHUTLA

Nganjuk – Kepulan asap dan kobaran api kembali mengancam kawasan hutan lindung di lereng Gunung Wilis. Kebakaran hutan dan lahan terjadi di petak 67B RPH Salam Judeg BKPH Pace dan petak 57B RPH Salam Judeg BKPH Pace, wilayah administrasi Desa Klodan, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk.

Kobaran api melalap vegetasi hutan dengan luasan sekitar 2,5 hektare, dari luas baku kawasan mencapai 21,8 hektare. Kawasan tersebut merupakan hutan lindung dengan jenis tanaman RBC (Rimba Belantara Campuran).

Peristiwa bermula sekitar pukul 12.00 WIB, saat petugas patroli rutin, Nanang selaku Kepala RPH Salam Judeg, menemukan adanya titik api di kawasan hutan. Menyadari potensi api semakin meluas, petugas langsung bergerak menuju lokasi dan melakukan upaya pemadaman dengan membuat sekat ilaran untuk menghentikan jalur rambatan api.

Situasi semakin serius karena kobaran api berada di kawasan lereng Gunung Wilis yang dipenuhi serasah, ranting, daun kering dan rumput ilalang. Kondisi tersebut membuat api berpotensi cepat menjalar apabila tidak segera dikendalikan.

Mendapat informasi tersebut, unsur gabungan langsung bergerak. Nanang bersama lima anggota, Naldi dari BPBD Kabupaten Nganjuk bersama enam anggota, Sertu Rusmali selaku Babinsa Klodan Koramil 0810/18 Ngetos, Karniadi selaku Sekdes Klodan, serta sekitar 10 orang masyarakat Desa Klodan turun langsung ke lokasi.

Dengan semangat gotong royong, petugas dan masyarakat berjibaku memutus jalur api. Sekat ilaran dibuat, sementara metode gepyok dilakukan untuk memadamkan titik-titik api yang masih menyala.

Perjuangan berlangsung hingga malam hari.

Setelah melalui proses pemadaman dan penyekatan selama berjam-jam, sekitar pukul 23.15 WIB, kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan.

Meski api telah berhasil dijinakkan, personel tetap melakukan pemantauan guna mengantisipasi munculnya kembali titik api dari bara yang masih tersisa di bawah serasah maupun vegetasi kering.

DANDIM: JANGAN BIARKAN API KECIL BERUBAH MENJADI BENCANA BESAR

Dandim 0810/Nganjuk Letkol Arh M. Taufan Yudha Bhakti, S.I.P., S.T., mengapresiasi gerak cepat seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan kebakaran tersebut.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan harus ditangani sedini mungkin karena kondisi vegetasi kering dapat membuat api berkembang dengan cepat dan sulit dikendalikan.

“Saya mengapresiasi gerak cepat Babinsa bersama Perhutani, BPBD, perangkat desa dan masyarakat yang langsung turun ke lapangan. Kebakaran hutan tidak boleh dianggap sepele. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas dan mengancam kawasan hutan serta lingkungan di sekitarnya,” tegas Dandim.

Dandim juga menekankan pentingnya kewaspadaan dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan.

“Kunci utama bukan hanya memadamkan api, tetapi juga mencegah agar kebakaran tidak terjadi. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan, khususnya di sekitar kawasan hutan. Apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, segera laporkan kepada aparat maupun petugas terkait,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dandim meminta jajarannya melalui Babinsa untuk terus melakukan pemantauan di wilayah masing-masing, khususnya kawasan yang memiliki potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

“Babinsa agar terus bersinergi dengan pemerintah desa, Perhutani dan masyarakat. Jangan berhenti setelah api padam. Pastikan lokasi benar-benar aman dan lakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api,” pungkasnya.

NIHIL KORBAN, KEWASPADAAN TETAP DITINGKATKAN

Dalam kejadian tersebut tidak terdapat korban jiwa maupun kerugian personel. Kerugian materiil juga tidak tercatat, sementara material yang terbakar berupa serasah, ranting, daun, rumput ilalang serta tanaman RBC/rimba belantara campuran.

Terkait penyebab kebakaran, berdasarkan pendapat pelapor terdapat dugaan api dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan maupun kegiatan berburu. Namun demikian, penyebab tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.

Pascaapi berhasil dipadamkan, koordinasi antara TNI, Perhutani, BPBD, pemerintah desa dan masyarakat terus dilakukan. Pemantauan kawasan juga ditingkatkan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali memicu kebakaran.

Kobaran api memang telah padam, tetapi kewaspadaan tidak boleh ikut padam. Sebab di tengah hutan yang kering, satu bara kecil dapat kembali berubah menjadi kobaran besar.

TNI bersama seluruh unsur terkait berkomitmen untuk terus hadir menjaga wilayah, melindungi lingkungan dan mengantisipasi setiap potensi bencana yang mengancam masyarakat.

Exit mobile version